MBG Buka Pasar Desa, 1.381 BUMDes Masuk Rantai Pasok
JAKARTA, PASTIDESA.ID — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memberikan ruang lebih besar bagi badan usaha milik desa (BUMDes) untuk masuk ke dalam rantai pasok pangan nasional.
Hingga 19 Mei 2026, sebanyak 1.381 BUMDes tercatat menjadi pemasok dalam ekosistem MBG. Selain itu, terdapat 156 BUMDes Bersama (BUMDesma) yang juga terlibat.
Keterlibatan ribuan badan usaha desa tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa MBG tidak hanya memiliki dimensi pemenuhan gizi, tetapi juga berpotensi menciptakan pasar baru bagi produk-produk yang dihasilkan masyarakat desa.
Secara keseluruhan, pada periode tersebut terdapat 140.289 pemasok yang terlibat dalam ekosistem MBG. Pemasok tersebut mencakup UMKM, koperasi, Koperasi Desa Merah Putih, BUMDes, BUMDesma, serta pelaku usaha lainnya.
BUMDes Masuk Rantai Ekonomi MBG
Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong agar pelaksanaan MBG melibatkan pelaku usaha lokal.
Produk BUMDes dan UMKM dapat diserap sebagai bagian dari kebutuhan dapur MBG selama memenuhi persyaratan keamanan, mutu, harga, serta kontinuitas pasokan.
Pola tersebut membuka peluang bagi BUMDes untuk tidak hanya mengelola unit usaha yang selama ini menjadi andalan desa, tetapi juga berperan sebagai penghubung antara produksi masyarakat dengan kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Komoditas seperti telur, ayam, ikan, sayuran, beras, tahu, tempe dan berbagai bahan pangan lainnya dapat menjadi bagian dari rantai pasok tersebut.
Dengan demikian, ketika sebuah dapur MBG membeli produk dari BUMDes, manfaat ekonominya berpotensi mengalir lebih jauh kepada petani, peternak, nelayan, pengolah pangan dan pelaku UMKM di desa.
Dari Program Gizi Menjadi Pasar Baru
Skala program MBG membuat peluang tersebut tidak kecil. Pada 19 Mei 2026, MBG telah menjangkau sekitar 62,4 juta penerima manfaat setiap hari. Program tersebut juga melibatkan sekitar 28.913 SPPG dengan dukungan sekitar 28.390 mitra.
Besarnya kebutuhan makanan setiap hari menciptakan permintaan pangan yang relatif rutin. Di sinilah BUMDes dapat mengambil peran strategis.
BUMDes dapat mengonsolidasikan hasil produksi warga desa sehingga SPPG tidak perlu mencari bahan pangan dari banyak pemasok secara terpisah.
Model tersebut sekaligus dapat memberikan kepastian pasar kepada produsen kecil.
Bagi petani, misalnya, keberadaan pembeli dengan kebutuhan rutin dapat membantu mengurangi ketidakpastian pemasaran. Hal serupa berlaku bagi peternak telur, peternak ayam, pembudidaya ikan maupun pelaku usaha pangan lainnya.
Tantangannya Bukan Sekadar Menjadi Pemasok
Meski peluangnya besar, keterlibatan BUMDes dalam MBG tidak otomatis berarti keuntungan ekonomi akan langsung dirasakan desa.
BUMDes tetap harus mampu memenuhi standar kualitas dan kontinuitas pasokan. Selain itu, diperlukan mekanisme kerja sama yang jelas dengan SPPG, termasuk mengenai harga, volume, jadwal pengiriman dan pembayaran.
BUMDes juga perlu memastikan bahwa aktivitas tersebut memberikan nilai tambah bagi masyarakat desa, bukan sekadar menjadi perantara perdagangan.
Jika mampu menjalankan fungsi agregasi dengan baik, BUMDes justru dapat menjadi salah satu simpul penting dalam ekosistem MBG.
BUMDes mengumpulkan produk warga, memastikan kualitas dan kontinuitas, kemudian memasoknya kepada SPPG. Dari proses tersebut, nilai ekonomi yang tercipta dapat tetap berputar di desa.
Peluang bagi Desa
Keterlibatan 1.381 BUMDes dalam rantai pasok MBG menunjukkan bahwa peluang tersebut mulai terbentuk.
Ke depan, keberhasilan program tidak hanya dapat diukur dari jumlah makanan yang disalurkan atau jumlah penerima manfaat.
Dampaknya terhadap ekonomi lokal juga menjadi penting untuk dilihat: berapa banyak produk petani yang terserap, berapa banyak UMKM yang mendapatkan pasar, berapa banyak tenaga kerja yang tercipta dan berapa besar omzet yang berputar di desa.
Jika rantai pasok tersebut dibangun secara sehat dan transparan, MBG berpotensi menjadi lebih dari sekadar program pemenuhan gizi.
Ia dapat berkembang menjadi pasar baru bagi desa.
Dan bagi BUMDes, MBG dapat menjadi momentum untuk membuktikan kembali perannya sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat desa.